Langsung ke konten utama

Postingan

Yang Ga Padam-Padam

…..Itu judul tulisan apa perasaan ke mantan? Ga padam-padam. Ea.
Menuju hari lahir gua di dunia yang kejam ini, gua mulai melakukan refleksi. Berbicara lebih banyak pada diri sendiri dan mendengarkan orang lain. Sesuatu yang kurang mendapat tempat belakangan ini karena terlalu banyak distraksi. Dan kesadaran pertama yang gua dapatkan setelah melakukan refleksi adalah judul di atas: Yang Ga Padam-Padam. Harapannya dengan menulis ini, gua jadi lebih kenal dengan diri sendiri. Mari kita telaah.
Pertama, menulis. Menulis adalah kegiatan yang termasuk ga padam-padam hingga saat ini. Awal gua senang menulis adalah ketika SMA. Saat itu gua lagi suka-sukanya baca buku Raditya Dika. Penulis yang menceritakan kesehariannya yang bitter-sweet dan tak jarang, bodoh. Buku pertama Bang Radit yang gua beli di Gramedia adalah Manusia Setengah Salmon.
Sumber: wikipedia Pertama kali gua baca buku itu gua bergumam dalam hati,”gila! keren banget nih buku. Asik nih kalau gua bisa bikin kayak gini!”. Semenjak h…
Postingan terbaru

Melihara ikan dan menjadi tua

Mau ngeluh bosan sama hidup, tapi takut dimarahin netizen, nanti katanya kurang bersyukur. Padahal bosan dan bersyukur pada waktu bersamaan, itu bisa aja terjadi. Seperti yang gua alami saat ini, merasa bosan tapi sekaligus bersyukur. Rasa bosan ini bukan karena menderita atau apa, tapi karena bosan aja. Dan di saat yang bersamaan gua juga bersyukur. Semacam kontradiksi rasa. Bisa juga ya ternyata. Feeling bored and grateful di saat yang bersamaan.
Nah, akibat kebosanan ini, gua mulai melakukan hal-hal baru. Hal-hal yang ngga “lazim” dilakukan oleh seorang habib yang penyendiri. Gua main-main ke kebon, ambil singkong terus memakannya mentah-mentah. Ada juga sih yang direbus, tapi ada juga yang gua makan mentah. Setelah main ke kebon, gua main ke Parung Bogor. Beli ikan gurame yang udah agak besar dan beberapa bibit mujair nila. Kini, ngasih makan ikan gurame dan nila dengan pelet seharga 9 ribu sekilo yang ukurannya kecil dan ga terlalu amis jadi rutinitas gua tiap pagi dan sore. Gua m…

Minal 'aidin wal faizin

Assalamu’alaikum temen-temen. Jadi, udah maafin diri sendiri belum? Ehehe.
Lebaran tahun ini beda banget ya. Sepi. Biasanya ada salam-salaman sekarang ga ada. Shalat id aja harus pake masker abis itu harus langsung pulang. Tapi gapapa. Mudah-mudahan wabah ini segera berlalu aamiin. 
Di tulisan ini gua mau ngucapin minal ‘aidin wal faizin buat kalian semua. Terkhusus buat orang-orang yang gua juga gatau buat apa, sering mampir ke blog gua. Mohon maaf lahir dan batin ya. Dan thanks banget udah sering berkunjung ke sini. Kalian buat juga lah. Biar gua bisa balas kunjungannya.
Kalau ke gua sih ga perlu minta maaf. Sebab seperti kata Leon Agusta: Semua sudah dimaafkan. Sebab kita pernah bahagia. Anjay. Tapi guys, ngomong-ngomong kalian tau ga sih makna minal ‘aidin wal faizin itu apa? Nah, sekalian aja nih kita bahas sedikit minal ‘aidin wal faizin itu apa.
Kalau berdasarkan buku Lentera Hati karya Quraish Shihab, kita tidak bisa merujuk kepada al-Qur’an untuk mengetahui apa yang dimaksud deng…

Irfan Inyong adalah Titisan Muhammad Hatta

Dimas dodol menenteng cangkir kopinya ke halaman depan kontrakan dan duduk sambil menikmati pemandangan jalan. Kontrakannya yang sekarang cukup luas sehingga ia bisa duduk santai sambil menikmati pemandangan jalan dengan lebih leluasa. Di sela-sela waktunya kadang ia menyempatkan menanami tumbuh-tumbuhan hijau di halaman depan itu, dan membikin kursi kayu untuk duduk-duduk siapa pun yang mau duduk. Satu waktu temannya pernah bertanya,”Mengapakah kamu menanami tumbuh-tumbuhan di halaman depan?”
“Karena aku telah tersesat dalam rimba filsafat. Maka aku bisa gila tanpa tumbuh-tumbuhan.”
            Dimas Dodol memang kegandrungan membaca. Di usianya yang masih duduk di sekolah menengah, ia telah melahap habis buku demi buku. Mulai dari buku agama, sosial, hingga, novel-novel progresif. Akibat buku-buku itu, ia nampak seperti komunis kecil yang halus hatinya. Ia bukan komunis, tapi ia nampak seperti komunis. Dan di hari itu, ia menunggu seseorang. Seseorang teman lama yang jauh. Ia melongok…

Darimana datangnya tulisan?

Entah sudah berapa menit gua duduk-diam-terpaku di depan laptop tanpa menulis apapun. Seingat gua, gua ingin menulis tentang sahabat. Tapi gua urungkan karena kesannya dalam diri gua seperti ini --> apaan si lebay ajg. Gua gamau menulis dengan kesan seperti itu. Gua akan menulis apabila kesannya membuat gua menjadi lebih suka sama diri gua sendiri. Salah satunya seperti ini --> aaa habib lucu banget deh, jadi makin suka. Easy.
Lalu gua berusaha mencari topik lain. Alhasil, terlintaslah dalam pikiran gua satu topik yang gua pikir gua bisa menulisnya: life lesson. Tapi bukannya bisa menulis, gua malah jadi tambah bingung. Akhirnya gua urungkan juga deh. Buat apa gua menulis kalau malah bikin gua tambah bingung.
Hmmmm…..
Tapi guys, yang kalian gatau adalah gua sudah duduk-diam-terpaku di depan laptop selama sekitar 15 menit. Dan kemudian gua tersadar sesuatu. Ternyata, berkat kesan yang ga gua sukai di atas ditambah kebingungan (dan kesabaran juga kali ya secara 15 menit bengong, …

Bahagia

Habibubu nulis lagi gaysss. Apa kabarnya nihhh sobat-sobat menara gading aq? Ehehe
Guys, kali ini gua mau bahas sedikit tentang bahagia. Menurut kalian bahagia itu apa sih? Sebelum kalian jawab, kita lihat definisi dari KBBI aja dulu ya gais.

/ba ha gia/

n.
Keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)

Jadi, dari definisi di atas bahagia itu adalah suatu keadaan dimana kita merasa tenteram. Gitu guys. se der ha na ba nget ga sih guysss. Gua perhatiin kayaknya gua ngomong guys mulu dari tadi. Gapapa deh.

Dan untuk merasa tenteram itu ga mesti mahal kok guys. Sesederhana bangun pagi. Sesederhana minum kopi sambil dengerin lagu favorit di Spotify. Sesederhana chattingan bareng temen-temen satu grup wa yang orangnya lucu-lucu. Apa lagi? oiya, sesederhana sarapan bareng temen-temen mungkin. Sarapannya di apartemen kawasan Bintaro…ehehe kalau itu mahal sih.

Btw, itu bahagia versi gua. Kalau bahagia versi kalian apa? Tulis di kolom komentar ya. Yang sederhana aj…

Wajar Orang-orang Marah

Suatu sore, waktu lagi ngopi di warung makan sambil ngerokok sam soe, Dimas dodol berkomentar mengenai tes cepat virus korona untuk anggota DPR,’’bukankah masuk akal kalau anggota DPR dites lebih dulu? Kenapa orang-orang marah?’’
Lalu saya tanya,’’memangnya kenapa kalau orang-orang marah?’’ dia bilang,’’Begini, para anggota DPR itu kan paling mungkin kena korona. Mereka bertemu satu sama lain, kunjungan kerja ke daerah-daerah, pergi ke luar negeri juga.’’
Benar juga. Batin saya dalam hati. Lalu dia melanjutkan.
‘’Coba bayangkan, mereka kena virus korona. Bukankah mereka sudah pada tua? Banyak diantara mereka pasti punya riwayat penyakit: diabetes, darah tinggi, gula, atau mungkin stroke. Mereka bisa mati.’’
Saya mulai mengerti arah argumen Dimas Dodol ini. Kalau anggota DPR bermasalah dengan virus korona, pelayanan publik akan kacau dan eksistensi negara terancam.
Sebagai salah satu orang yang lelah hati terhadap kelakuan anggota DPR tempo hari, juga anggota DPRD yang malah menolak d…