Tuan Pemikir

Beberapa tahun sebelum aksi demo mahasiswa terkait RUU KPK, Si Cantik masih mengingat pertemuan dirinya dengan si orang menyebalkan itu; orang yang dengan kurang ajar membuatnya menunggu dan bersiap menjadi perawan tua yang galak. Ia sedang duduk disana, di samping tangga dengan wajah seperti orang banyak pikiran, ketika Si Cantik menghampirinya dan mencoba menghibur hanya karena Si Cantik benci melihat wajah kusut seperti itu. Si laki-laki menoleh, laki-laki yang telah memutuskan di usia 27 atau 28 sebagai waktu perkawinan mereka dan berkata bahwa kau cantik, ia memang kurang ajar, sebelum keluhan yang sesungguhnya keluar: ia seperti kesakitan bicara tentang buku Muhammad Hatta yang dimakan hama buku atau tikus, dengan halaman yang lepas-lepas dan sebagian bab bahkan hilang, serta kertas yang patah-patah di perpustakaan kami.  Ia bilang buku seperti itu tak layak dicuri dan itu yang membuatnya tampak tak berbahagia.

Saat itu mereka sama-sama mahasiswa baru. Dan tak lama setelah itu Si Cantik segera mengenalnya dengan lebih baik: ia memang tak begitu bahagia karena kehidupan ini menurutnya menyebalkan dan ia memang pencuri buku. Dalam pengakuannya, ia mencuri buku dari perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di seluruh pelosok kota, dari toko-toko buku maupun dari toko loakan. Ia berkata bahwa mencuri buku merupakan tindakan terkutuk, dan ia melakukannya dengan harapan bisa ditangkap sehingga ia akan tahu bahwa pemerintah memang mencintai buku dan benci para pencuri buku. Tapi dasar ia memang malang, ia tak juga ditangkap meskipun sudah dua ribu lima ratus empat puluh dua buku ia curi.

“Terhadap pemerintah busuk macam begitu,” katanya suatu waktu di hari yang tak terlupakan oleh Si Cantik karena kalimat tersebut menjadi kalimat pembuka yang aneh sebelum laki-laki itu mengatakan bahwa ia jatuh cinta kepadanya dan ingin menjadi kekasihnya, melanjutkan,”Kita harus melawan dan menuntut hak kita.” Itu bukan kata-kata omongan kosong, tapi nyaris ia lakukan benar seandainya ia punya sumber daya yang memadai.

Dengan caranya sendiri ia mulai mencoba merealisasikan gagasannya tentang melawan dan menuntut hak. Ia menempel poster Fidel Castro di kamar pondokannya dan terobsesi untuk melakukan kontak dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Ia juga membaca ribuan buku curian yang menumpuk di kamarnya, sekadar mencari alasan yang tepat untuk mengumumkan perlawanan. Si Cantik berkata kepadanya, di mana-mana rakyat begitu miskin sementara para pejabat hidup mewah. Negara sudah di ambang bangkrut karena utang luar negeri dan Bapak-bapak anggota dewan sudah terlalu lama memperlihatkan pengkhianatannya, menutup kesempatan kerja bagi orang yang memiliki bakat menjadi anggota dewan. Menurut Si Cantik, itu semua alasan yang cukup untuk mengumumkan perlawanan, tetapi laki-laki itu keberatan. Katanya, alasan seperti itu sudah terlalu banyak diketahui orang, tapi nyatanya tak seorang pun menyatakan perlawanan karena itu.

“Lebih baik kita melawan karena alasan yang lebih logis,” katanya.”Yakni karena pemerintah tak menangkapku, si pencuri buku perpustakaan.”

Itulah yang terjadi. Bersama empat belas orang temannya, ia memulai aksi politik pertamanya dengan demonstrasi di depan gedung perpustakaan. Menurutnya, mereka adalah cikal-bakal pasukan pemberontaknya. Dan gerombolan anak-anak itu, yang lebih mirip sebuah tim sepak bola dengan empat pemain cadangan daripada aktivis perlawanan, mulai meneriakkan yel-yel pada pukul sepuluh ketika ketika perpustakaan dipenuhi pengunjung. Mereka juga bernyanyi-nyanyi dan diakhiri dengan pembacaan tuntutan yang revolusioner: berikan perlakukan yang lebih manusiawi terhadap buku-buku tersebut. Demonstrasi berakhir tak viral, tanpa liputan surat kabar dan hanya mendapat cibiran mahasiswa yang sebagian besar pragmatis. Halah, ngapapin sih lu anjing dema-demo. Laki-laki penuh obsesi ini tak mendapatkan kader tambahan: ia bahkan kehilangan empat belas dari empat belas calon pasukan perlawanannya. Itu kenangan yang terlalu pahit untuk dikenang.

Tapi dari sorot matanya yang tajam, orang segera akan tahu bahwa ia bukan pemuda yang mudah menyerah. Lebih dari itu, ia punya bakat luar biasa mengumpulkan orang, mengorganisasikannya, yang pada akhirnya ia persiapkan menjadi individu-individu yang loyal. Terutama melalui kalimat-kalimat buah pemikirannya, bocah yang sesungguhnya tak berminat menjadi pemikir itu telah mendapatkan banyak pengikut setia untuk mendengarkan kalimat-kalimatnya yang bernuansa sastra. Karya-karyanya, yang sedikit berbau romantik telah menghipnotis banyak orang yang membaca maupun mendengar. Bahkan Si Cantik sendiri masih ingat, tak lama sebelum hari aksi demo RUU KPK itu, dalam sebuah kunjungan mendadak dan hanya diiringi satu pengawal, bapak anggota dewan menyempatkan diri datang ke kota ini dan menemui laki-laki itu di pondokannya. Si Cantik sendiri ada di sana ketika itu, tak lama setelah mereka menikmati sedikit perbincangan sambil menatap pepohonan rimbun dan Pak Dewan berkata:

“Tuan pemikir, aku membenci buah pemikiranmu. Ia begitu menusuk dan melukai hatiku. Hentikanlah membacanya dan terutama menulisnya.”

Setelah itu Pak Dewan menghilang. Entah bagaimana ia menghilang: satu jam kemudian ia sudah muncul di televisi dalam acara siaran langsung rapat koordinasi kabinet yang penuh lelucon tak lucu. Sementara itu, kekasih Si Cantik hanya tertawa sambil menghabiskan satu bungkus Dji Sam Soe untuk menghilangkan ketegangan sesaat dan berkata bahwa kata-kata Pak Dewan kepadanya sama artinya dengan pengumuman perlawanan. Ia akan meladeninya, begitu ia berkata kepada Si Cantik.

“Terhadap model orang yang tiap hari tidur kekenyangan, mereka tidak punya semangat juang dan misi. Yang mereka tahu hanya harta dan seks.” Katanya pelan, tak jelas.

  Suatu hari, tak lama setelah demonstrasi pertama yang gagal itu, ia berkenalan dengan seorang penjual buku bekas yang membuka toko kecil di pesanggrahan. Sebagian besar pengunjungnya mahasiswa yang datang untuk membeli novel atau buku kuliah, atau bahkan menjual dan kadangkala menukarnya. Sekali-dua kali datang mahasiswa, tak pernah menjual tapi hanya melihat-lihat dan kalau ada uang sekali-kali membeli. Tuan Pemikir datang ke tempat itu bersama Si Cantik atas rekomendasi seorang kawan yang sedikit dendam kepada si pemilik toko buku dengan harapan Tuan Pemikir akan mencuri banyak buku dari sana dan membuatnya bangkrut. Di luar dugaannya, Tuan Pemikir menjadi begitu akrab dengan si pemilik toko mengingat kesamaan diantara mereka yang senang sekali membaca.

Bersambung…

3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Hai Habibu,
    Perkenalkan aku pembaca setiamu.
    Tau gak, tiap kali kulihat ada postingan baru di blog ini... pasti aku langsung excited. Penasaran, apa lagi kisah yg kau tuliskan kali ini.

    Sungguh, tulisanmu bagiku sangat menghibur dan mengandung banyak tafsir didalamnya.

    Teruslah menulis, bibu, selesaikan setiap tulisan yg sudah kau mulai. Ingat, masih ada aku dan pembaca setiamu yg lain, yang selalu menunggu...

    Salam,
    Aku yg bercita2 sebagai penulis, namun sedang hiatus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo ani. Sumpah, komentar ini berarti banget. Speechless. Udah nih minum dulu. *suguhin kopi*

      Delete

Powered by Blogger.