Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Dinding kamar mandi

Ia membuka pintu kamar mandi dan terkejut dengan cat tembok yang masih baru. Gantungan baju yang sebelumnya tidak ada kini telah tersedia disana. Terpampang dengan gagah. Si gantungan seolah berkata,”ayo gantung pakaianmu disini”. Dia cukup senang. Menurutnya, kamar mandi yang bagus adalah yang ada gantungannya. Sebagus-bagusnya kamar mandi, kalau tidak ada gantungannya tetap jelek. Siapa sih arsiteknya? Gumamnya, setiap kali memasuki kamar mandi yang tidak ada gantungannya. Setelah semua urusannya selesai, ia mengenakan pakaiannya lagi.

Anak itu berumur dua puluh dua tahun, berpakaian ala seniman, dan tertegun dengan dinding kamar mandi yang masih bersih. Baru dicat dengan warna merah yang centil. Seperti warna lipstik gadis kesukaannya, Rani. Juga seperti rona pipi Annisa, gadis kesukaannya yang lain. Ia merogoh tasnya dan menemukan apa yang dicarinya: Spidol. Dengan setengah emosi, ia menulis di dinding,”Reformasi gagal total, Kawan! Para aktivis terdahulu kini anteng duduk di senay…

Menua berarti menjadi mata

Menua berarti menjadi mata. Karena ketika kita menua, kita mulai berjarak dari hidup. Kita menjadi sering mengamati tingkah laku orang lain, bahkan diri sendiri. Dari pengamatan itu, kita mendapati semacam pola. Betapa menua berarti menjadi mata.

Kesibukan sehari-hari membuat kita luput. Interaksi dengan manusia lain semakin membuat kita tidak punya waktu untuk menyendiri. Coba jawab ini, kapan terakhir kali kamu menyempatkan waktu hanya dengan dirimu sendiri? dengan pikiranmu sendiri? 15 menit sebelum tidur? 10 menit saat bangun tidur?

Setelah menjadi mata kamu menjadi sadar. Betapa hidup ini singkat sekali. Seperti angin lalu saja. Lalu kamu juga menjadi sadar, betapa telah lalai selama ini. Diantara kamu mungkin ada yang merasa ketinggalan arus. Tapi kini kamu telah menjadi mata, dan mampu melihat pola. Dengan mata itu kamu tahu bahwa arus kehidupan berputar hanya disitu-situ saja. Jadi tidak masalah ketinggalan arus, katamu. Toh, arusnya hanya berputar disitu-situ saja. Manusia ba…

Menulis adalah soal mengekspresikan diri

Mengapa setiap kali di depan laptop dan hendak menulis kita mendadak tidak tahu mau menulis apa? Stuck. Tidak tahu apa yang mau dituangkan. Tetapi seringkali ketika kita di jalan, di kasur, saat sedang tidak melakukan apa-apa, ide-ide muncul berdatangan. Saya sering mengalami ini dan kamu pun pasti demikian.

Orang yang tidak suka membaca lalu mengeluhkan kondisinya yang sulit menulis itu wajar dan dapat diterima. Karena perbendaharaan kata di ingatannya kurang, maka ia sulit menulis dan merangkai kata. Tapi orang yang kesehariannya membaca, sampai-sampai dikatakan orang tidak punya kerjaan, lalu ketika di hadapan laptop ia tidak tahu harus menulis apa, itu menyedihkan. Karena ia punya perbendaharaan kata, mestinya ia mampu menulis. Pasti ada hal lain selain perbendaharaan kata yang menjadi kendala.

Dugaan saya adalah karena kita berusaha membuat orang lain terkesan (Impress). Menulis adalah tentang mengekspresikan diri (Express), bukan impress. Ketika kita berusaha membuat orang lain te…