Langsung ke konten utama

Dinding kamar mandi

Ia membuka pintu kamar mandi dan terkejut dengan cat tembok yang masih baru. Gantungan baju yang sebelumnya tidak ada kini telah tersedia disana. Terpampang dengan gagah. Si gantungan seolah berkata,”ayo gantung pakaianmu disini”. Dia cukup senang. Menurutnya, kamar mandi yang bagus adalah yang ada gantungannya. Sebagus-bagusnya kamar mandi, kalau tidak ada gantungannya tetap jelek. Siapa sih arsiteknya? Gumamnya, setiap kali memasuki kamar mandi yang tidak ada gantungannya. Setelah semua urusannya selesai, ia mengenakan pakaiannya lagi.

Anak itu berumur dua puluh dua tahun, berpakaian ala seniman, dan tertegun dengan dinding kamar mandi yang masih bersih. Baru dicat dengan warna merah yang centil. Seperti warna lipstik gadis kesukaannya, Rani. Juga seperti rona pipi Annisa, gadis kesukaannya yang lain. Ia merogoh tasnya dan menemukan apa yang dicarinya: Spidol. Dengan setengah emosi, ia menulis di dinding,”Reformasi gagal total, Kawan! Para aktivis terdahulu kini anteng duduk di senayan. Mari tuntaskan revolusi!”
___

Pukul setengah tujuh pagi, ketika hari masih terlalu pagi untuk para mahasiswa datang ke kelas, seorang anak sudah menyerbu kamar mandi yang terdapat persis di ujung fakultas. Ia punya sedikit masalah dengan kamar mandi di dekat kelasnya: kamar mandinya tidak bisa terkunci (slotnya rusak). Ia tidak bisa tenang dengan kamar mandi seperti itu. Setelah segala urusannya selesai, ia menatap tulisan di dinding yang masih bersih itu dengan takjub.

Dengan sebuah spidol kecil, ia membuat tanda panah dari kalimat yang terbaca, dan menulis, membalas,”Sudahlah! Pemainnya juga itu-itu saja. Lebih baik belajar, cari ilmu. Revolusi tidak menyelesaikan masalah.”
___

Dan gadis itu pun muncul, seorang gadis tomboi yang konon pengagum berat Slank. Ia mengenakan celana dari bahan yang nyaman, dan pakaian atas yang gombrang; lubang leher dan lengannya kadang merosot, sekali-dua kali mempertontonkan apa yang ada di dalamnya. Ia benci saat-saat pipis, karena merasa repot harus membuka celananya. Tapi hidup di alam sudah ditakdirkan untuk pipis, dan ia tidak punya pilihan lain selain selaras dengan alam. Maka pipislah ia di kamar mandi yang sama. meskipun merepotkan.

Dan seperti kebanyakan pengguna kamar mandi, ia tertarik dengan tulisan di dinding, dan tergoda untuk ikut berkomentar pula. Dicarinya spidol di tasnya, tapi ia hanya menemukan kaca dan bedak make up, serta lipstik. Maka menulislah ia dengan lipstik setelah membuat tanda panah,”Kau pasti anak rumahan yang egois! Pragmatis, dan individualis. Omong-kosong cari ilmu, persiapkan revolusi!”
___
Tiga hari berlalu tanpa kejadian yang mengejutkan di kamar mandi, sampai seorang anak yang lain masuk. Ia membuka celananya, berjongkok, dan menyelesaikan apa yang harus diselesaikannya. Dan sambil menyelesaikan urusannya itu, sang anak mulai membacai tiga kalimat yang tertulis di dinding. Ia tersenyum dengan tulisan terakhir, dan membayangkan gadis macam apa yang menuliskannya.

Setelah segala urusannya selesai, ia pun mengambil pulpen dan ikut berkomentar dengan penuh gairah,”Hai, gadis! Aku suka gadis revolusioner. Kau yakin tidak ingin jadi pacarku saja?”

Kemudian di siang terik, muncullah seorang gadis lain dan dari jenis yang lain. Seorang “orang kaya” yang terbiasa hidup mewah dan suka dandan. Tas kecilnya yang sungguh-sungguh kecil, penuh dengan segala alat perang seorang gadis ganjen. Dan kemunculannya di kamar mandi, tentu tak semata-mata untuk pipis atau lainnya, bahkan tidak pula untuk sekadar cuci muka dan tangan. Ia hampir setiap hari berkunjung ke kamar mandi, tak lain dan tak bukan untuk mendesain wajahnya yang berantakan setelah beberapa jam terkena debu dan berkeringat. Ia kurang percaya diri dan tentunya harus berdandan.

Si gadis berdiri di samping bak mandi yang permukaannya keramik, menatap bayangan wajahnya di cermin kecil yang ia genggam. Ditaburinya wajahnya yang “mengundang” dengan bedak agak tebal, lalu seputar matanya dihiasi lagi dengan eye shadow. Tak lupa perona pipi. Alisnya yang tipis ditatanya ulang hingga agak tebal. Bibirnya yang sudah pucat, disapu pula dengan warna merah menyala, semerah anggota tubuh yang dialiri darah, dan ketika itulah ia membaca segala emosi orang di dinding. Sambil tertawa kecil, ia ikut menulis, juga dengan lipstik,”Boleh! Jemput jam delapan malam di kafe. Note: Jangan bawa mata-mata.”
___

Entah hari yang ke berapa setelah kamar mandi tampil dengan cat barunya, muncullah ke kamar mandi tersebut seorang laki-laki. Tubuhnya kurus dan tinggi, dengan rambut panjang lurus dan pembawaan yang flamboyan. Jaket yang dikenakannya, berwarna hitam. Orang kalau melihatnya, pasti menduga ia anak mapala, atau bisa juga aktivis. Beginilah apa yang ia tulis:”Teman, kalau kalian sungguh-sungguh revolusioner, tunjukkan muka kalian kalau punya nyali. Jangan cuma nyinyir di belakang, bikin rusuh, dasar PKI!
__

Sepuluh hari berlalu tanpa ada orang yang berani masuk ke dalam kamar mandi tersebut, gara-gara suatu peristiwa yang menyebalkan. Ada seorang oknum, pasti tolol dan tidak punya etiket, dan dikutuk oleh hampir semua pelanggan setia kamar mandi, yang bikin ulah menjijikkan. Entah hari apa dan pukul berapa, ia masuk kamar mandi dan segera saja buang air besar. Tololnya, ia kemudian keluar begitu saja tanpa menyiram. Membuat sampah-sampahnya terlantar di lubang kakus.

Siapa pun yang kemudian masuk setelah itu, pasti kehilangan selera untuk apa pun di dalam kamar mandi. Semua orang menghindarinya. Tapi entah keajaiban apa, ternyata ada juga yang akhirnya masuk ke kamar mandi itu dengan sadar. kejadiannya di saat jam-jam kuliah sedang berlangsung, dan anak itu berjalan cepat-cepat dari ruang kelas lantai tujuh sambil memegangi bagian depan celananya. Takut kebobolan. Ia masuk ke kamar mandi lantai tujuh. Terisi. Kamar mandi lantai enam. Khusus dosen. Kamar mandi lantai lima. Sedang dalam perbaikan. Kakinya mulai bergetar, ia mulai mensugesti diri bahwa ia telah terbiasa menahan buang air, maka ia juga bisa melakukannya saat ini. Tapi ternyata kali ini ia sungguh tidak tahan, maka bergegaslah ia ke kamar mandi ujung fakultas itu. Dalam satu gerakan cepat, ia membuka celananya, berjongkok, dan lega.

Selama itu ia tahan napas dan menutup mata. Tapi kemudian ia memutuskan untuk melakukan suatu aksi heroik, guna mengakhiri sumber masalah di kamar mandi ini. Masih sambil menutup mata, dan menahan napas, ia menyiram lubang kakus, mengantarkan sampah-sampah itu ke tempat perhentian yang seharusnya.

Sang anak merasa lega, dan mulailah ia membaca pesan-pesan di dinding dengan kemarahan setelah apa yang terjadi. Ia ambil spidolnya, warna merah, dan segera ikut menulis,”Ini dia si brengsek, yang buang air besar tanpa menyiramnya! Hey, teman, aku memang PKI: Penggemar Kucing Oren Indonesia. Apelo apelo.
___

Semua orang tahu, kamar mandi itu dicat agar tampak bersih dan nyaman. Sebelumnya, ia merupakan ruangan kecil yang terpinggir, tempat banyak orang membual. Dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan konyol yang saling membalas, tentang gagasan-gagasan radikal, tentang hal mesum, dan ada pula pujangga-pujangga yang kata cintanya tertolak menuliskan seluruh luapan perasaan itu di dinding kamar mandi. Dan para pelukis amatir, ikut memeriahkannya dengan gagasan-gagasan “Toilet do your magic”. Hasilnya, dinding kamar mandi penuh dengan coret-coretan, sebagaimana kamar mandi-kamar mandi umum di mana pun: di terminal, di kereta api ekonomi, di sekolah-sekolah, dan di stadion.

Karena kemudian menjadi tampak kumuh, sang dekan sebagai pihak yang berwenang di fakultas, memutuskan untuk mengecat kembali dinding kamar mandi. Maka terhapuslah coret-coretan milik umum itu. Namun, seperti kemudian diketahui, tulisan pertama mulai muncul, lalu dijawab oleh tulisan kedua, dan ramailah kembali dinding-dinding kamar mandi dengan ekspresi-ekspresi yang tak tersampaikan. Kenyataan ini, membuat gelisah mahasiswa-mahasiswa alim, yang cinta keindahan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etiket.

Salah satu mahasiswa jenis ini, kemudian masuk kamar mandi, dan segera saja merasa kesal melihat dinding yang tadinya masih bersih, sudah kembali dipenuhi coretan-coretan konyol dari makhluk-makhluk yang kurang kerjaan. Ia bukan seorang usil yang suka corat-coret, bahkan meja kelasnya pun tak pernah ia coret walau segaris. Tapi kali ini ia menjadi tergoda luar biasa. Tentu saja karena kesal. Maka ia pun ikut menulis, walau hatinya merasa tidak nyaman,”Teman-teman, tolong jangan corat-coret di dinding kamar mandi. Jagalah kebersihan. Kamar mandi bukan tempat menampung curahan hati. Salurkan saja aspirasi kalian ke bapak-bapak anggota dewan.”
___

Konon, di bawah tulisan si mahasiswa alim itu, tertulislah ratusan komentar dalam sepuluh hari. Hampir seribu setelah dua bulan kemudian. Tak jelas siapa saja yang telah ikut menulis, membuat dinding kamar mandi semakin berubah bentuk, kembali ke penampakannya semula. Jawaban-jawaban atas usul si mahasiswa alim, ditulis dengan beragam alat: pulpen, spidol, lipstik, pensil, darah, besi yang digoreskan ke dinding, dan ada pula yang menulisnya dengan batu. Betapa inginnya mereka menjawab, sehingga tak ada rotan, akar pun jadi.
Tulisan pertama berbunyi:” aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan yang mulia, aku lebih percaya dinding kamar mandi, dan Jason Ranti.”

Tulisan kedua berbunyi:”Kebanyakan kekuasaan”

Tulisan ketiga berbunyi:”Kebodohan tak henti-henti”

Tulisan keempat berbunyi:”Aku juga”.

Dan ratusan tulisan tersisa, juga hanya menulis “aku juga” dan penggalan lirik lagu-lagu Jason Ranti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan Pemikir

Beberapa tahun sebelum aksi demo mahasiswa terkait RUU KPK, Si Cantik masih mengingat pertemuan dirinya dengan si orang menyebalkan itu; orang yang dengan kurang ajar membuatnya menunggu dan bersiap menjadi perawan tua yang galak. Ia sedang duduk disana, di samping tangga dengan wajah seperti orang banyak pikiran, ketika Si Cantik menghampirinya dan mencoba menghibur hanya karena Si Cantik benci melihat wajah kusut seperti itu. Si laki-laki menoleh, laki-laki yang telah memutuskan di usia 27 atau 28 sebagai waktu perkawinan mereka dan berkata bahwa kau cantik, ia memang kurang ajar, sebelum keluhan yang sesungguhnya keluar: ia seperti kesakitan bicara tentang buku Muhammad Hatta yang dimakan hama buku atau tikus, dengan halaman yang lepas-lepas dan sebagian bab bahkan hilang, serta kertas yang patah-patah di perpustakaan kami.  Ia bilang buku seperti itu tak layak dicuri dan itu yang membuatnya tampak tak berbahagia.

Saat itu mereka sama-sama mahasiswa baru. Dan tak lama setelah itu Si…

Menulis adalah soal mengekspresikan diri

Mengapa setiap kali di depan laptop dan hendak menulis kita mendadak tidak tahu mau menulis apa? Stuck. Tidak tahu apa yang mau dituangkan. Tetapi seringkali ketika kita di jalan, di kasur, saat sedang tidak melakukan apa-apa, ide-ide muncul berdatangan. Saya sering mengalami ini dan kamu pun pasti demikian.

Orang yang tidak suka membaca lalu mengeluhkan kondisinya yang sulit menulis itu wajar dan dapat diterima. Karena perbendaharaan kata di ingatannya kurang, maka ia sulit menulis dan merangkai kata. Tapi orang yang kesehariannya membaca, sampai-sampai dikatakan orang tidak punya kerjaan, lalu ketika di hadapan laptop ia tidak tahu harus menulis apa, itu menyedihkan. Karena ia punya perbendaharaan kata, mestinya ia mampu menulis. Pasti ada hal lain selain perbendaharaan kata yang menjadi kendala.

Dugaan saya adalah karena kita berusaha membuat orang lain terkesan (Impress). Menulis adalah tentang mengekspresikan diri (Express), bukan impress. Ketika kita berusaha membuat orang lain te…

Q&A

TARAA…Akhirnya tulisan ini diposting juga. Sebelumnya gua mau minta maaf nih karena ngga semua pertanyaan gua muat disini. Gua makasih banget buat kalian yang udah nanya. Jadi gua ada bahan postingan :))
Karena gua kira, gua akan dapat pertanyaan yang receh-receh aja gitu. Tapi ternyata ada juga pertanyaan-pertanyaan yang bikin gua mikir. Sampe bergumam dalam hati (cieila bergumam),”Apa ya?”. Selain itu, gua juga ga yakin akan punya waktu luang lagi dalam waktu dekat. FYI, gua sekarang ngajar. Jadi sibuk nyiapin materi ajar. So, daripada tidak sama sekali, maka beberapa akan gua jawab di tulisan ini.
Oiya, ini gua jawab suka-suka ya. Bukan yang gimana-gimana sehingga jadi terkesan menggurui. Gua yakin kalian dapet poinnya.
“Gimana biar nggak ambyar?” - Dwi Andika
Ini dalam hal apa dulu? Self-love, friendship, happiness, love atau apa? Karena apa pun itu, gua belum tentu bisa jawab. HAHA.
Ngga deng. Setidaknya gua bisa memberikan dari perspektif gua ya.
Jawaban gua rada muna, sih. Bia…