Akses

Sekali waktu aku ingin mengganti ban motor yang sudah gundul. Aku mencari toko ban di sekitar rumah dan menemukannya. Tokonya lengkap dengan peralatan bengkel yang canggih. Aku disambut pemiliknya: teman berandalku ketika masih sekolah dulu. Si Dimas dodol.

Bagaimana dia bisa jadi pengusaha jual beli ban? Padahal dulunya dia kerja di restoran dengan gaji pas-pasan, lalu menyia-nyiakan gaji pas-pasan itu untuk kretek dan sebotol bir? Dari mana modal ia dapatkan? Pertanyaan-pertanyaan itu terlintas di pikiranku.

Tak jauh dari toko ban itu, ada toko lain dengan bisnis yang sama: jual beli ban. Toko itu milik orang tua istri si bekas berandal itu. Sekali lagi aku dikejutkan, ternyata dia sudah menikah. Dan tak butuh lama buatku untuk mengerti. Ternyata, rahasia sukses jual beli ban ini adalah…..punya keluarga yang terjun di bidang yang sama!

Hey, aku tidak sedang bercanda. Tak perlu sungkan untuk mengatakan, ingin jadi anggota DPR? Akan lebih mudah jika ayahmu pengurus partai tertentu. Punya ambisi jadi pejabat negara? Lebih mudah jika ayahmu Susilo Bambang Yudhoyono.

Ingin jadi anak band? Jalanmu akan mulus sekali, lebih mulus dari pergelangan tangan Julie Estelle barangkali, jika ayahmu Ahmad Dhani. Rahasianya di sini: dari kecil, kamu sudah melihat gitar, bass, dan drum. Telingamu terbiasa mendengarkan musik, dan kamu punya cukup uang untuk pergi menonton konser. Baik konser mini di cikini, atau festival besar di Glastanbury.

Lantas, bagaimana cara orang tanpa latar belakang lingkungan dan keluarga seperti itu meraih sukses di bidang itu? Jawabannya, aku tidak tahu. Tapi setidaknya film di televisi dan novel memberitahuku sedikit hal. Kerja keras, tekun, dan keteguhan hati adalah kunci keberhasilan. Yah, kamu mulai mengerutkan dahi. Ya, film dan kisah novel memang terlalu mengglorifikasi kisah sukses semacam itu.

Sejujurnya, aku hanya ingin bilang bahwa tidak perlu sungkan membicarakan kisah sukses yang jauh lebih nyata. Seperti kawanku yang sukes dengan usaha jual beli ban-nya (karena dukungan orangtua si istri). Ini menjadi penting untuk menyadarkan kita bahwa kerja keras, tekun, dan keteguhan hati itu kurang lengkap. Ada satu hal lagi yang jika ada lebih baik: akses.

Untuk jadi anggota DPR, kamu harus punya akses terhadap partai tertentu. Untuk jadi anak band, kamu harus punya akses terhadap alat musik dan pengetahuan tentang musik. Dan, yang menyediakan akses itu tak selalu harus orangtua. Bisa teman, keluarga, dan masyarakat sekitar.

Belakangan juga aku tahu bahwa CEO start-up aplikasi ruang sebelah (iya iya udah ga jaman plesetan) adalah anak dari seorang jenderal. Aku tidak tahu kebenarannya. Tapi jika benar, maka ini bisa jadi satu contoh lagi.




Sutedi Idiot, 2 April 2020

No comments:

Powered by Blogger.