Langsung ke konten utama

Wajar Orang-orang Marah

Suatu sore, waktu lagi ngopi di warung makan sambil ngerokok sam soe, Dimas dodol berkomentar mengenai tes cepat virus korona untuk anggota DPR,’’bukankah masuk akal kalau anggota DPR dites lebih dulu? Kenapa orang-orang marah?’’

Lalu saya tanya,’’memangnya kenapa kalau orang-orang marah?’’ dia bilang,’’Begini, para anggota DPR itu kan paling mungkin kena korona. Mereka bertemu satu sama lain, kunjungan kerja ke daerah-daerah, pergi ke luar negeri juga.’’

Benar juga. Batin saya dalam hati. Lalu dia melanjutkan.

‘’Coba bayangkan, mereka kena virus korona. Bukankah mereka sudah pada tua? Banyak diantara mereka pasti punya riwayat penyakit: diabetes, darah tinggi, gula, atau mungkin stroke. Mereka bisa mati.’’

Saya mulai mengerti arah argumen Dimas Dodol ini. Kalau anggota DPR bermasalah dengan virus korona, pelayanan publik akan kacau dan eksistensi negara terancam.

Sebagai salah satu orang yang lelah hati terhadap kelakuan anggota DPR tempo hari, juga anggota DPRD yang malah menolak dites (sambil teriak-teriak bilang kami ini anggota DPR bu, kami bukan rakyat kecil), saya ingin menyangkal. Tapi saya telah memberi waktu pada otak saya yang kecil ini waktu untuk mencerna, merasakan, argumen si Dimas Dodol tadi.

Kesimpulannya, saya bisa menerima argumen itu. Protokol keamanan negara sudah sepatutnya dijalankan. Tapi, ketika anggota DPR meminta dites, beserta keluarga, supir, dan ART-nya, saya merasa ada yang salah. Ada yang tak patut. Maka hemat saya, wajar apabila orang-orang marah. Kenapa?

Begini, virus ini telah merubah tatanan sosial dan perilaku di lingkungan kita. Kita tak lagi berjabat tangan, tidak lagi shalat jum’at, bahkan tidak lagi mudik. Tapi ternyata ini belum seberapa. Virus ini, lebih parahnya, membuka tabir kesenjangan.

Rakyat kelas bawah terdampak paling luas. Di kota, mereka kehilangan pekerjaan. Mereka dirumahkan, tanpa penghasilan. Dalam lubuk hati mereka, mungkin mereka mengharapkan bantuan langsung tunai. Atau setidaknya ada upaya dari lingkungan sekitar untuk membantu meringankan beban mereka di masa sulit ini. Itu di Kota. Bagaimana dengan di desa? Di desa, akan lebih sulit lagi. Sistem kesehatan di Desa dengan di kota jauh sekali timpangnya.

Lalu di tengah situasi seperti itu, anggota DPR meminta diperlakukan istimewa? Hm, sekalipun benar bahwa tes cepat itu mempergunakan uang sendiri, sense of justice masyarakat akan tetap terusik.

Barangkali ada yang menganggap mereka memang istimewa. mereka memikul tugas-tugas negara, sehingga harus diperlakukan istimewa. Tapi apakah benar kerja mereka istimewa? undang-undang yang mereka hasilkan, benarkah dalam rangka kebaikan bersama? Jika menengok ke belakang, mulai dari RKUHP, Revisi Undang-Undang KPK, dan lainnya, semuanya menuai kontroversi. Belum lagi gaya hidup yang minus empati dan simpati, pasti banyak yang sakit hati.
Maka orang-orang menjadi marah. Karena mereka tidak percaya. Sesederhana itu.


Sutedi Idiot, 13 Apri 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan Pemikir

Beberapa tahun sebelum aksi demo mahasiswa terkait RUU KPK, Si Cantik masih mengingat pertemuan dirinya dengan si orang menyebalkan itu; orang yang dengan kurang ajar membuatnya menunggu dan bersiap menjadi perawan tua yang galak. Ia sedang duduk disana, di samping tangga dengan wajah seperti orang banyak pikiran, ketika Si Cantik menghampirinya dan mencoba menghibur hanya karena Si Cantik benci melihat wajah kusut seperti itu. Si laki-laki menoleh, laki-laki yang telah memutuskan di usia 27 atau 28 sebagai waktu perkawinan mereka dan berkata bahwa kau cantik, ia memang kurang ajar, sebelum keluhan yang sesungguhnya keluar: ia seperti kesakitan bicara tentang buku Muhammad Hatta yang dimakan hama buku atau tikus, dengan halaman yang lepas-lepas dan sebagian bab bahkan hilang, serta kertas yang patah-patah di perpustakaan kami.  Ia bilang buku seperti itu tak layak dicuri dan itu yang membuatnya tampak tak berbahagia.

Saat itu mereka sama-sama mahasiswa baru. Dan tak lama setelah itu Si…

Menulis adalah soal mengekspresikan diri

Mengapa setiap kali di depan laptop dan hendak menulis kita mendadak tidak tahu mau menulis apa? Stuck. Tidak tahu apa yang mau dituangkan. Tetapi seringkali ketika kita di jalan, di kasur, saat sedang tidak melakukan apa-apa, ide-ide muncul berdatangan. Saya sering mengalami ini dan kamu pun pasti demikian.

Orang yang tidak suka membaca lalu mengeluhkan kondisinya yang sulit menulis itu wajar dan dapat diterima. Karena perbendaharaan kata di ingatannya kurang, maka ia sulit menulis dan merangkai kata. Tapi orang yang kesehariannya membaca, sampai-sampai dikatakan orang tidak punya kerjaan, lalu ketika di hadapan laptop ia tidak tahu harus menulis apa, itu menyedihkan. Karena ia punya perbendaharaan kata, mestinya ia mampu menulis. Pasti ada hal lain selain perbendaharaan kata yang menjadi kendala.

Dugaan saya adalah karena kita berusaha membuat orang lain terkesan (Impress). Menulis adalah tentang mengekspresikan diri (Express), bukan impress. Ketika kita berusaha membuat orang lain te…

Q&A

TARAA…Akhirnya tulisan ini diposting juga. Sebelumnya gua mau minta maaf nih karena ngga semua pertanyaan gua muat disini. Gua makasih banget buat kalian yang udah nanya. Jadi gua ada bahan postingan :))
Karena gua kira, gua akan dapat pertanyaan yang receh-receh aja gitu. Tapi ternyata ada juga pertanyaan-pertanyaan yang bikin gua mikir. Sampe bergumam dalam hati (cieila bergumam),”Apa ya?”. Selain itu, gua juga ga yakin akan punya waktu luang lagi dalam waktu dekat. FYI, gua sekarang ngajar. Jadi sibuk nyiapin materi ajar. So, daripada tidak sama sekali, maka beberapa akan gua jawab di tulisan ini.
Oiya, ini gua jawab suka-suka ya. Bukan yang gimana-gimana sehingga jadi terkesan menggurui. Gua yakin kalian dapet poinnya.
“Gimana biar nggak ambyar?” - Dwi Andika
Ini dalam hal apa dulu? Self-love, friendship, happiness, love atau apa? Karena apa pun itu, gua belum tentu bisa jawab. HAHA.
Ngga deng. Setidaknya gua bisa memberikan dari perspektif gua ya.
Jawaban gua rada muna, sih. Bia…