Langsung ke konten utama

Irfan Inyong adalah Titisan Muhammad Hatta


Dimas dodol menenteng cangkir kopinya ke halaman depan kontrakan dan duduk sambil menikmati pemandangan jalan. Kontrakannya yang sekarang cukup luas sehingga ia bisa duduk santai sambil menikmati pemandangan jalan dengan lebih leluasa. Di sela-sela waktunya kadang ia menyempatkan menanami tumbuh-tumbuhan hijau di halaman depan itu, dan membikin kursi kayu untuk duduk-duduk siapa pun yang mau duduk. Satu waktu temannya pernah bertanya,”Mengapakah kamu menanami tumbuh-tumbuhan di halaman depan?”

“Karena aku telah tersesat dalam rimba filsafat. Maka aku bisa gila tanpa tumbuh-tumbuhan.”

            Dimas Dodol memang kegandrungan membaca. Di usianya yang masih duduk di sekolah menengah, ia telah melahap habis buku demi buku. Mulai dari buku agama, sosial, hingga, novel-novel progresif. Akibat buku-buku itu, ia nampak seperti komunis kecil yang halus hatinya. Ia bukan komunis, tapi ia nampak seperti komunis. Dan di hari itu, ia menunggu seseorang. Seseorang teman lama yang jauh. Ia melongok ke jalan berharap kawan lamanya bisa segera datang sebelum secangkir kopinya habis, atau sebelum kreteknya habis. Tapi yang datang justru seorang gadis. Itu Aisyah.

            “Apa kabar, Dodol?” tanya gadis itu.

            “Buruk,” jawab Dimas Dodol.”Kawan lamaku belum datang, sementara kopiku akan habis, atau kretekku akan habis.”

            “Kau bisa membelinya lagi jika habis.”

            “Tapi bukan itu skenario yang aku rencanakan.”

            Aisyah duduk di sampingnya, lalu dengan gerakan cepat namun tenang, meminum kopi Dimas Dodol seteguk demi seteguk hingga habis, dan berkata,”maka kini kau terpaksa merencanakannya.”
            “maka kau bedebah sialan”. Kata Dimas Dodol.

            Adalah Irfan Inyong, teman lama semasa kuliah yang ditunggu oleh Dimas Dodol. Irfan Inyong adalah orang spesial bagi Dimas Dodol karena hanya Irfan Inyonglah dalam lingkaran pertemanannya yang bisa diajak bicara mengenai buku-buku, terutama buku-buku subversif-progresif. Kecintaan pada buku yang dimiliki keduanya menjadi semacam pengikat pertemanan dekat mereka. Dan menurut Dimas Dodol, Irfan Inyong adalah lebih gila buku darinya, dan lebih tajam pikirannya. Setiap kali ia mencoba untuk mengungguli Irfan Inyong, maka ia mendapati Irfan Inyong sudah sepuluh langkah lebih jauh di depannya. Tiga tahun ia mencoba melakukannya hingga akhirnya ia menyerah dengan kompetisi yang dibuatnya sendiri.

            “Irfan Inyong adalah titisan Muhammad Hatta.” Kata Dimas Dodol, tanpa menoleh pada Aisyah.

            “Lalu kau siapa?” tanya Aisyah, juga tanpa menoleh.”

            “Barangkali aku Soekarno, tapi lebih religius.”

13 Mei 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuan Pemikir

Beberapa tahun sebelum aksi demo mahasiswa terkait RUU KPK, Si Cantik masih mengingat pertemuan dirinya dengan si orang menyebalkan itu; orang yang dengan kurang ajar membuatnya menunggu dan bersiap menjadi perawan tua yang galak. Ia sedang duduk disana, di samping tangga dengan wajah seperti orang banyak pikiran, ketika Si Cantik menghampirinya dan mencoba menghibur hanya karena Si Cantik benci melihat wajah kusut seperti itu. Si laki-laki menoleh, laki-laki yang telah memutuskan di usia 27 atau 28 sebagai waktu perkawinan mereka dan berkata bahwa kau cantik, ia memang kurang ajar, sebelum keluhan yang sesungguhnya keluar: ia seperti kesakitan bicara tentang buku Muhammad Hatta yang dimakan hama buku atau tikus, dengan halaman yang lepas-lepas dan sebagian bab bahkan hilang, serta kertas yang patah-patah di perpustakaan kami.  Ia bilang buku seperti itu tak layak dicuri dan itu yang membuatnya tampak tak berbahagia.

Saat itu mereka sama-sama mahasiswa baru. Dan tak lama setelah itu Si…

Menulis adalah soal mengekspresikan diri

Mengapa setiap kali di depan laptop dan hendak menulis kita mendadak tidak tahu mau menulis apa? Stuck. Tidak tahu apa yang mau dituangkan. Tetapi seringkali ketika kita di jalan, di kasur, saat sedang tidak melakukan apa-apa, ide-ide muncul berdatangan. Saya sering mengalami ini dan kamu pun pasti demikian.

Orang yang tidak suka membaca lalu mengeluhkan kondisinya yang sulit menulis itu wajar dan dapat diterima. Karena perbendaharaan kata di ingatannya kurang, maka ia sulit menulis dan merangkai kata. Tapi orang yang kesehariannya membaca, sampai-sampai dikatakan orang tidak punya kerjaan, lalu ketika di hadapan laptop ia tidak tahu harus menulis apa, itu menyedihkan. Karena ia punya perbendaharaan kata, mestinya ia mampu menulis. Pasti ada hal lain selain perbendaharaan kata yang menjadi kendala.

Dugaan saya adalah karena kita berusaha membuat orang lain terkesan (Impress). Menulis adalah tentang mengekspresikan diri (Express), bukan impress. Ketika kita berusaha membuat orang lain te…

Q&A

TARAA…Akhirnya tulisan ini diposting juga. Sebelumnya gua mau minta maaf nih karena ngga semua pertanyaan gua muat disini. Gua makasih banget buat kalian yang udah nanya. Jadi gua ada bahan postingan :))
Karena gua kira, gua akan dapat pertanyaan yang receh-receh aja gitu. Tapi ternyata ada juga pertanyaan-pertanyaan yang bikin gua mikir. Sampe bergumam dalam hati (cieila bergumam),”Apa ya?”. Selain itu, gua juga ga yakin akan punya waktu luang lagi dalam waktu dekat. FYI, gua sekarang ngajar. Jadi sibuk nyiapin materi ajar. So, daripada tidak sama sekali, maka beberapa akan gua jawab di tulisan ini.
Oiya, ini gua jawab suka-suka ya. Bukan yang gimana-gimana sehingga jadi terkesan menggurui. Gua yakin kalian dapet poinnya.
“Gimana biar nggak ambyar?” - Dwi Andika
Ini dalam hal apa dulu? Self-love, friendship, happiness, love atau apa? Karena apa pun itu, gua belum tentu bisa jawab. HAHA.
Ngga deng. Setidaknya gua bisa memberikan dari perspektif gua ya.
Jawaban gua rada muna, sih. Bia…