Melihara ikan dan menjadi tua


Mau ngeluh bosan sama hidup, tapi takut dimarahin netizen, nanti katanya kurang bersyukur. Padahal bosan dan bersyukur pada waktu bersamaan, itu bisa aja terjadi. Seperti yang gua alami saat ini, merasa bosan tapi sekaligus bersyukur. Rasa bosan ini bukan karena menderita atau apa, tapi karena bosan aja. Dan di saat yang bersamaan gua juga bersyukur. Semacam kontradiksi rasa. Bisa juga ya ternyata. Feeling bored and grateful di saat yang bersamaan.

Nah, akibat kebosanan ini, gua mulai melakukan hal-hal baru. Hal-hal yang ngga “lazim” dilakukan oleh seorang habib yang penyendiri. Gua main-main ke kebon, ambil singkong terus memakannya mentah-mentah. Ada juga sih yang direbus, tapi ada juga yang gua makan mentah. Setelah main ke kebon, gua main ke Parung Bogor. Beli ikan gurame yang udah agak besar dan beberapa bibit mujair nila. Kini, ngasih makan ikan gurame dan nila dengan pelet seharga 9 ribu sekilo yang ukurannya kecil dan ga terlalu amis jadi rutinitas gua tiap pagi dan sore. Gua melakukan hal-hal baru dan menemukan keseruannya.

Makan singkong mentah, makan lalapan daun singkong, buah paya, dan ikan adalah yang gua lakukan juga belakangan ini. Awalnya merasa agak aneh dan kurang nyaman. Karena gua sebetulnya ga terlalu doyan ikan. Tapi karena ada dorongan motif rasa bosan dan lain-lain, gua makan juga dan ternyata asik-asik aja tuh. Terus lalapan buah paya yang pait bisa ketelen aja tuh. Meskipun pas terasa banget paitnya gua makannya sambil minum wkwk. Tapi menariknya, gua dapat pemikiran baru. Ternyata rasa makanan itu hanya selebar mulut. Kalau udah masuk perut, semua makanan sama. Makna filosofis baru yang gua peroleh dari melakukan hal-hal tadi. Dan baiknya, sekarang gua jadi lebih bisa “menghargai” makanan ketika makanan itu memang rasanya enak.

FYI, bokap gua juga dulu suka melihara ikan. Di tengah-tengah kegiatan ngasih makan ikan, kadang gua suka keinget bokap. Setiap sore dan minggu pagi, bokap suka kasih makan ikan. Ikan-ikan itu kemudian naik ke permukaan dan berebutan makanan. Karena ikannya banyak, mereka jadi menghasilkan gelombang permukaan air dan riak-riak air yang bunyinya itu bikin tenang banget. Meskipun dulu gua ga suka melihara ikan, tapi gua mengakui bahwa itu adalah relaksasi yang asik sih. Sekarang, gua mulai menemukan kemiripan dengan bokap gua dalam hal ini dan lebih menemukan sensasinya. Tapi gatau juga sih, apakah ini karena kemiripan atau gua mulai menjadi tua aja?

Menjadi tua dalam pemikiran mungkin. Karena gua melihat diri gua yang lebih damai dengan menjadi tua. Dalam artian, ngga lagi maksa ngejar-ngejar. Kalau emang bukan jalannya ya udahlah, gausah dikejar. Kalau mau stay, alhamdulillah. Tapi kalau ngga, itu pun ga apa-apa. Dan mulai meyakini bahwa ketenangan itu lebih esensial dari kesenangan. Maka gua lebih menyukai ngasih makan ikan dibanding hal-hal sebelumnya yang menyenangkan, yang biasa gua lakukan. Tapi tidak menenangkan.

Btw insya Allah gua mau beli bibit ikan mujair nila lagi nih. Mungkin tiga ratus ekor. Sekitar tiga bulan lagi, main ya ke rumah gua. Kita makan-makan sambil ngobrol-ngobrol. Ngga kok, gua tetep asik diajak ngobrol. Yang menua cuma sebagiannya aja. Sebagian yang lain, masih jiwa muda dan akan tetap muda.





6 comments:

  1. Gue kira akan berujung "wayahna bro. Gue jualan ikan. Beli atuh!". 🤣 My best friend. Lama kita tak pergi bareng lagi. Masih kangen ke Gramed gak lu?🤣

    ReplyDelete
  2. main alus wae urang mah dik wkwk. Kuy lah kangen banget gua nyium bau buku gramed.

    ReplyDelete
  3. Sekalian lu pake sarung pas ngasih makan ikannya bib, biar makin keliatan kebapaannya 🤪

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahaaa sak ae nih tukang risoles

      belajar masak ikan lah kali aja ada orderan nanti

      Delete
  4. Ternyata benar, alam selalu memberikan ketenangan. Lu jadi melihara ikan, dan gw juga lagi melihara tanaman. Boleh lah kapan2 kumpulan makan ikan bakar dengan lalapan selada hijau hasil panen 😂

    ReplyDelete

Powered by Blogger.