Kematian


Kematian. Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar tentang kematian? Sedih? Takut? Cemas? Atau bahagia? Apapun yang terlintas dalam benakmu setelah mendengarnya, bergantung dari bagaimana kamu memandangnya.

Ada Sufi yang memandang bahwa kematian adalah kebahagiaan. Kenapa? Karena sang Sufi memandang, kematian adalah pintu gerbang untuk kembali pada Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang. Yang tidak akan mendzaliminya. Yang tidak akan berbuat jahat kepadanya. Ada pula seorang teman, yang waktu lagi ngopi di warung kopi bilang bahwa dia takut dengan kematian. Mengingat dosa-dosanya di masa lalu. Seorang teman yang lain, selepas mengalami kecelakaan berat menjadi haqqul yaqin dengan kematian. Dia bilang, awalnya sekadar yakin akan mati. Yakni nanti di usia tua. Tapi setelah mengalami kecelakaan yang membuatnya hampir kehilangan nyawa, dia jadi haqqul yaqin dengan kematian. Haqqul yaqin, dia menyebutnya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan kepada orang yang belum pernah mengalami apa yang dia alami.

Tenang, tulisan ini tidak bermaksud menakut-nakuti. Tulisan ini hanya menawarkan pandangan alternatif mengenai kematian. Bahkan mungkin menawarkan pandangan bahwa kematian bukanlah hal yang harus ditakuti, melainkan dipersiapkan. Apa yang harus dipersiapkan?

Alih-alih memandang kematian sebagai sesuatu yang menakutkan, bukankah lebih baik memandang kematian sebagai sesuatu yang membangkitkan inspirasi, semangat, dan optimisme? Karena takut atau tidak pada kematian, kita semua pasti mati.

Dengan mengingat kematian, kita jadi menyadari bahwa waktu kita terbatas. Sehingga kita terdorong untuk melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan, memprioritaskan orang-orang yang sudah seharusnya diprioritaskan, dan tidak lagi terdistraksi melakukan hal yang tidak membawa manfaat dan tidak pula memuaskan batin. Dengan mengingat kematian, setiap waktu yang ada menjadi seperti hadiah.

Kita seringkali luput menganggap setiap hari adalah hadiah. Karena kita tidak hidup pada saat ini. We’re not live in the moment. Kita malah lebih sering terbebani dengan menambahkan dua hal yang menyebabkan kita kehilangan kendali: kemarin dan besok. Padahal kemarin telah berlalu, dan besok mungkin tidak akan pernah datang. Satu-satunya yang kita miliki adalah saat ini. Saya jadi teringat sebuah nasihat dari Seneca,”hiduplah seakan hari ini hari terakhir kita bernafas”. Juga Marcus Aurellius:

”You could leave life right now. Let that determine what you do and say and think.”.

Tidak hanya Seneca, bahkan Nabi Muhammad Saw. pun menganggap orang yang mengingat kematian sebagai orang yang cerdas. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah,” (HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya)

Dengan ,mengingat kematian, hidup menjadi lebih sederhana. Karena kita sudah tidak lagi sampai hati untuk memendam dendam dan amarah dalam dada. Jadi lebih mudah memaafkan, dan mungkin tidak punya lagi ego untuk terkesan membuktikan pada dunia, atau bahkan pada orang-orang yang kita anggap merendahkan kita.

Sebagai gambaran (meskipun tidak bisa menjadi acuan karena bisa saja lebih cepat atau lebih lama), rata-rata usia hidup manusia pada zaman ini adalah 63 – 70 tahun. Kalau kamu saat ini berusia 23 tahun, mungkin kamu punya waktu 40 tahun lagi.

I ngat lah ha ri ke ma ti an mu

Selamat menikmati hari ini sebagai hadiah 😀

__

“Setiap jiwa pasti merasakan mati,” (QS Ali ‘Imran ayat 185)


No comments:

Powered by Blogger.